Candi Muaro Jambi: Kompleks Candi Buddha Terluas di Asia Tenggara yang Misterius

Di tepian Sungai Batanghari, Jambi, terhampar sebuah warisan sejarah yang kemegahannya sering kali luput dari perhatian dunia internasional: Candi Muaro Jambi. Situs ini bukan sekadar kumpulan reruntuhan kuno; ia adalah kompleks percandian Buddha terbesar dan terluas di Asia Tenggara, melampaui bahkan Angkor Wat di Kamboja dari segi luasan total. Candi Muaro Jambi diperkirakan memiliki luas mencapai $12\text{ kilometer persegi}$ dan membentang sepanjang 7 kilometer di tepi sungai. Candi Muaro Jambi diyakini pernah menjadi pusat pendidikan dan keagamaan Buddha terbesar di Asia, sejajar dengan Nalanda di India, dan merupakan saksi bisu kejayaan Kerajaan Melayu Kuno.

🏛️ Kota Pelajar Kuno dan Pusat Perdagangan

Para arkeolog memperkirakan kompleks Candi Muaro Jambi dibangun mulai abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi. Di dalamnya terdapat setidaknya 85 reruntuhan menapo (gundukan tanah) yang diyakini merupakan bekas bangunan candi, biara, atau fasilitas pendukung lainnya.

  • Pusat Pendidikan: Situs ini sering dikaitkan dengan catatan perjalanan biksu Tiongkok, I-Tsing, pada abad ke-7. I-Tsing singgah di sebuah Kerajaan Melayu di Jambi (yang diduga kuat adalah situs ini) dan menyebutnya sebagai pusat studi Agama Buddha yang penting, di mana biksu dari Tiongkok harus belajar bahasa Sanskerta sebelum melanjutkan perjalanan ke India.
  • Material Bangunan: Berbeda dengan candi di Jawa yang umumnya terbuat dari batu andesit, sebagian besar struktur di Candi Muaro Jambi terbuat dari batu bata merah. Batu bata ini disusun tanpa perekat modern, menunjukkan kecanggihan teknik pembangunan pada masanya.

🔍 Misteri dan Upaya Ekskavasi

Meskipun luas dan penting, hingga kini, hanya sekitar 10 candi utama (seperti Candi Gumpung, Candi Tinggi, dan Candi Kedaton) yang telah dipugar dan diteliti secara intensif. Sebagian besar reruntuhan lainnya masih tertutup oleh tanah, hutan, dan perkebunan warga.

  • Penemuan Artefak: Ekskavasi berkelanjutan telah menemukan berbagai artefak penting, termasuk pecahan keramik Tiongkok dari Dinasti Tang, arca perunggu, dan prasasti bertuliskan huruf Jawa Kuno dan Pallawa. Penemuan-penemuan ini memperkuat posisi situs tersebut sebagai pusat aktivitas intelektual dan perdagangan internasional yang vital di Selat Malaka.
  • Perlindungan Situs: Situs ini berada di bawah perlindungan pemerintah, dan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 19/M/2018 menetapkan kawasan ini sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional. Upaya konservasi terus dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi, yang pada laporan terakhir per 15 Juli 2025, tengah memfokuskan pemugaran pada Candi Astano.

Situs ini tidak hanya menjadi bukti kejayaan Kerajaan Melayu kuno tetapi juga berfungsi sebagai museum hidup yang menceritakan peradaban maritim dan pendidikan agama yang pernah berjaya di Nusantara.