Tersembunyi di tepi Sungai Batanghari, Provinsi Jambi menyimpan harta karun sejarah yang sering luput dari perhatian: Candi Muaro Jambi. Situs ini bukan sekadar peninggalan purbakala biasa, melainkan sebuah Kompleks Percandian Terluas di seluruh Asia Tenggara, meliputi area seluas sekitar $3.981 \text{ hektar}$. Keberadaan kompleks ini diperkirakan berasal dari abad ke-7 hingga ke-13 Masehi, menjadikannya pusat penting Kerajaan Melayu Kuno dan pusat pendidikan agama Buddha Vajrayana. Penemuan dan restorasi situs ini secara bertahap mengungkap Kompleks Percandian Terluas yang dulunya merupakan kota metropolitan kuno yang ramai. Oleh karena ukurannya yang kolosal dan nilai historisnya, upaya untuk menjadikan Kompleks Percandian Terluas ini sebagai Warisan Dunia UNESCO terus diupayakan oleh pemerintah Indonesia.
1. Kota Kuno di Tepi Sungai Batanghari
Lokasi Candi Muaro Jambi yang berada di tepi Sungai Batanghari menunjukkan betapa pentingnya sungai tersebut sebagai jalur transportasi dan perdagangan utama pada masa lampau.
- Pusat Pendidikan: Candi Muaro Jambi dipercaya sebagai kampus kuno bagi para biksu yang datang dari berbagai penjuru Asia. Bukti ini diperkuat oleh penemuan lempengan-lempengan emas dan artefak yang menunjukkan praktik ritual dan pengajaran agama Buddha yang kompleks.
- Struktur dan Fungsi: Diperkirakan terdapat sedikitnya 82 reruntuhan candi dan struktur kuno lainnya di dalam kompleks ini, meskipun baru sekitar 11 candi utama yang telah berhasil direstorasi dan diberi nama (seperti Candi Gumpung, Candi Tinggi, dan Candi Kembar Batu).
2. Arsitektur dan Material Bangunan
Candi-candi di Muaro Jambi memiliki karakteristik arsitektur yang khas, berbeda dari candi-candi di Jawa Tengah atau Jawa Timur.
- Bahan Utama: Candi-candi ini sebagian besar dibangun menggunakan bata merah bakar yang dikeringkan, menunjukkan ketersediaan material lokal yang melimpah. Penggunaan bata ini berbeda dengan candi di Jawa yang umumnya menggunakan batu andesit.
- Gaya Melayu: Meskipun inti ajarannya adalah Buddha, gaya arsitekturnya menunjukkan adaptasi dengan budaya dan material Melayu lokal, mencerminkan akulturasi yang terjadi di kawasan Sumatera.
3. Upaya Konservasi dan Perlindungan
Mengingat skala dan kerentanan situs ini terhadap faktor lingkungan dan manusia, upaya konservasi sangatlah intensif.
- Penjagaan Situs: Area seluas hampir $4.000 \text{ hektar}$ ini membutuhkan penjagaan yang ketat. Berdasarkan laporan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi pada bulan Agustus 2025, tercatat ada 45 petugas lapangan dan arkeolog yang bertugas setiap hari untuk memantau situs, melakukan penggalian, dan menjaga keamanan dari potensi perusakan.
- Perencanaan UNESCO: Pemerintah Provinsi Jambi dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menargetkan agar Candi Muaro Jambi dapat diresmikan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2028, setelah proses finalisasi dokumen nominasi yang komprehensif.