Menjelajahi Jambi tak lengkap tanpa mengunjungi harta karun geologi yang luar biasa, yaitu Geopark Merangin. Kawasan ini bukan hanya menawarkan keindahan alam berupa sungai dan perbukitan, tetapi juga menyimpan catatan sejarah bumi yang terukir dalam bentuk fosil berusia jutaan tahun. Keunikan Geopark Merangin adalah keberadaan fosil Flora dan Fauna Purba yang tersebar di sepanjang aliran Sungai Batang Merangin, menjadikannya situs paleontologi yang sangat penting di Asia Tenggara. Para ilmuwan dan peneliti mengakui nilai universal kawasan ini karena menyediakan bukti konkret tentang kehidupan Flora dan Fauna Purba di era Paleozoikum dan Mesozoikum. Dengan penetapannya sebagai National Geopark, kawasan ini menjadi pusat riset dan edukasi geologi yang tak ternilai harganya, khususnya mengenai Flora dan Fauna Purba.
Jantung dari Geopark Merangin adalah singkapan batuan yang memuat fosil-fosil tersebut, yang usianya diperkirakan mencapai 290 hingga 300 juta tahun. Usia ini menempatkan beberapa koleksi fosil di sini sebagai yang tertua di Indonesia. Fosil-fosil tersebut mencakup berbagai jenis tumbuhan dan hewan laut. Fosil tumbuhan yang mendominasi adalah Palaeodictyon dan Calamites, yang merupakan jenis-jenis paku-pakuan raksasa dan tumbuhan purba yang hidup di periode Perm. Sementara itu, untuk fauna, ditemukan fosil Brachiopoda dan Moluska, yang mengindikasikan bahwa area Geopark Merangin dulunya merupakan dasar laut dangkal yang subur. Penemuan-penemuan ini memberikan gambaran yang jelas mengenai evolusi Flora dan Fauna Purba di wilayah Sumatera.
Eksplorasi di Geopark Merangin sering dilakukan dengan metode river tubing atau arung jeram ringan di sepanjang Sungai Batang Merangin. Metode ini memungkinkan pengunjung untuk melihat langsung singkapan batuan yang menampakkan fosil secara alami di tepi-tepi sungai. Untuk menjamin keselamatan dan kelestarian situs, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jambi menetapkan bahwa kunjungan ekspedisi fosil harus didampingi oleh pemandu lokal bersertifikat dan maksimal kelompok terdiri dari 15 orang, terutama untuk kegiatan yang melewati site Geologi Teluk Wang Sakti. Ketentuan ini mulai berlaku efektif sejak tanggal 1 Juni 2025.
Selain fosil, kawasan Geopark Merangin juga kental dengan keunikan budaya lokal. Di beberapa desa penyangga, masih ditemukan tradisi lisan dan ritual adat yang berkaitan erat dengan pemanfaatan sumber daya alam di sekitar sungai. Penduduk setempat, yang sebagian besar dari Suku Batin, telah lama menjadi penjaga kelestarian alam di kawasan ini. Penemuan fosil-fosil ini, termasuk spesimen Gastropoda purba yang menjadi koleksi langka, semakin memperkuat urgensi pelestarian kawasan ini. Geopark Merangin adalah jendela waktu yang membuka kisah jutaan tahun sejarah bumi, tempat di mana sains dan warisan budaya menyatu.