Geopark Merangin: Menguak Fosil Tertua Dunia dan Formasi Batuan Prasejarah

Jambi, sebuah provinsi yang kaya akan warisan budaya Melayu, juga menyimpan harta karun geologi yang luar biasa, yaitu Geopark Merangin. Situs ini bukan sekadar destinasi wisata alam biasa; ia adalah jendela waktu yang membuka pandangan langsung ke masa prasejarah bumi. Di sepanjang aliran Sungai Batang Merangin, terhampar formasi batuan purba dan ribuan fosil flora dan fauna yang usianya mencapai ratusan juta tahun. Keunikan Geopark Merangin terletak pada konservasi geologi, biologi, dan budaya, yang menjadikannya situs penting untuk penelitian. Mengunjungi taman bumi ini adalah pengalaman edukatif yang unik, di mana kita dapat menyaksikan sendiri fosil tertua dunia yang terawetkan secara alami.


Jendela Waktu di Sungai Batang Merangin

Kekayaan utama Geopark Merangin adalah fosil-fosil yang tersebar luas dan mudah diakses di sepanjang tepi sungai, terutama pada saat musim kemarau. Fosil yang ditemukan di sini sebagian besar adalah fosil tumbuhan, seperti pakis, cycads, dan kayu-kayuan, yang menunjukkan bahwa wilayah Jambi dulunya merupakan hutan hujan purba yang subur.

Para ahli geologi memperkirakan usia fosil-fosil ini, bersama dengan formasi batuan di sekitarnya, berasal dari periode Permian Awal hingga Karbon Akhir, yaitu sekitar 280 hingga 300 juta tahun yang lalu. Usia setua ini menjadikan beberapa temuan di sana sebagai fosil tertua dunia yang pernah ditemukan di Indonesia. Kondisi unik sungai yang mengikis lapisan batuan secara berkelanjutan memungkinkan fosil-fosil ini terus terungkap ke permukaan.

Berdasarkan laporan hasil ekspedisi yang dipublikasikan oleh Pusat Penelitian Geologi Nasional pada Tanggal 10 April 2025, kawasan ini mengandung jejak sejarah Bumi yang tidak terputus, mulai dari era Paleozikum hingga Cenozoikum, menjadikannya laboratorium alam yang tak ternilai harganya.

Petualangan Rafting Edukatif

Eksplorasi Geopark Merangin seringkali dilakukan melalui aktivitas arung jeram atau rafting ringan di Sungai Batang Merangin. Metode ini memungkinkan pengunjung untuk bergerak perlahan menyusuri sungai sambil mengamati formasi batuan prasejarah yang membentuk dinding-dinding jurang. Di beberapa titik kritis, pemandu lokal akan menepi untuk menunjukkan lokasi fosil, seperti fosil daun raksasa atau jejak kaki kuno yang terawetkan dalam batu pasir.

Pemandu wisata yang bertugas di lokasi pada Hari Sabtu, 5 Oktober 2024, mencatat bahwa konservasi di wilayah ini sangat didukung oleh komunitas lokal. Aturan yang berlaku di sana sangat ketat; dilarang keras mengambil atau merusak fosil dan batuan. Kearifan lokal masyarakat Jambi yang berinteraksi harmonis dengan alam menjadi pilar penting dalam menjaga situs geologi ini agar tetap utuh untuk generasi mendatang. Pengunjung tidak hanya mendapatkan pengalaman petualangan, tetapi juga pemahaman mendalam tentang sejarah geologi planet kita.