Provinsi Jambi secara historis dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia yang menyimpan kekayaan biodiversitas luar biasa. Namun, saat ini kita sedang menyaksikan sebuah tragedi lingkungan yang nyata, di mana Hutan yang Hilang menjadi pemandangan sehari-hari akibat ekspansi perkebunan skala besar dan pertambangan. Hilangnya tutupan hijau ini bukan sekadar hilangnya pepohonan, melainkan juga hilangnya rumah, identitas, dan apotek alami bagi ribuan orang yang menggantungkan hidupnya pada alam.
Ada sebuah Fakta yang sangat menyedihkan di balik angka-angka deforestasi yang sering dirilis oleh lembaga lingkungan. Di balik data tersebut, terdapat kehidupan manusia yang tercerabut dari akarnya. Bagi komunitas lokal, hutan adalah “Tanah Ibu” yang memberikan kehidupan dari generasi ke generasi. Ketika alat-alat berat masuk dan meratakan hutan, mereka tidak hanya menghancurkan ekosistem, tetapi juga menghancurkan struktur sosial dan tradisi yang telah terjaga selama ratusan tahun.
Kondisi ini memicu munculnya Perjuangan Masyarakat Adat yang luar biasa berani namun seringkali berakhir dengan duka. Mereka harus berhadapan dengan korporasi besar yang memiliki kekuatan modal dan hukum yang jauh lebih kuat. Konflik agraria menjadi makanan sehari-hari di wilayah pedalaman. Masyarakat adat yang mencoba mempertahankan wilayah kelolanya seringkali justru dikriminalisasi di tanahnya sendiri. Mereka dianggap sebagai pengganggu pembangunan, padahal merekalah penjaga sejati yang memastikan keseimbangan alam tetap terjaga demi anak cucu kita semua.
Masalah di Jambi ini semakin kompleks karena regulasi yang ada seringkali tidak berpihak pada hak-hak tradisional masyarakat. Pengakuan terhadap wilayah adat seringkali berjalan sangat lambat, sementara izin usaha bagi perusahaan keluar dengan begitu cepat. Ketimpangan hukum ini membuat posisi tawar masyarakat adat semakin melemah. Banyak dari mereka yang akhirnya terpaksa menjadi buruh di atas tanah yang dulunya adalah milik mereka sendiri, sebuah ironi pahit di tengah narasi kemajuan ekonomi nasional.
Secara ekologis, dampak dari hilangnya hutan primer ini sudah mulai terasa dengan semakin seringnya bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut. Selain itu, konflik antara manusia dan satwa liar, seperti harimau sumatera dan gajah, meningkat drastis karena habitat mereka hancur. Masyarakat adat yang paling dekat dengan lokasi tersebut menjadi pihak yang paling terdampak, harus hidup dalam kecemasan kehilangan nyawa atau harta benda akibat rusaknya keseimbangan alam yang mereka agungkan sebagai Tanah Ibu.