Terletak di tepi Sungai Batanghari, Jambi menyimpan sebuah warisan arkeologi yang kemegahannya seringkali luput dari perhatian nasional: Candi Muaro Jambi. Situs ini adalah Kompleks Candi bercorak Buddha peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Melayu Kuno yang memiliki luas fantastis, membentang lebih dari 12 kilometer persegi. Luasnya yang mencakup ratusan reruntuhan candi dan gundukan tanah kuno menjadikannya Kompleks Candi terluas di Asia Tenggara, bahkan melebihi luas Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Mengunjungi situs ini ibarat menyusuri jejak peradaban emas Sriwijaya yang pernah menjadi pusat pendidikan agama Buddha dan perdagangan maritim terbesar di kawasan ini.
Penelitian arkeologi menunjukkan bahwa Kompleks Candi Muaro Jambi tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan Buddhis internasional yang sangat penting. Para biksu dari berbagai negara di Asia datang untuk belajar di sini, menjadikannya kampus monastik yang setara dengan Nalanda di India pada masanya. Berdasarkan penemuan prasasti dan artefak, situs ini diperkirakan aktif sejak abad ke-7 hingga abad ke-14 Masehi. Penggunaan material bata merah dalam pembangunan candi-candi di sini menunjukkan perbedaan gaya dengan candi-candi di Jawa yang lebih sering menggunakan batu andesit.
Saat ini, di antara ratusan reruntuhan yang masih tertutup tanah (menapo), baru tujuh candi utama yang telah berhasil direstorasi dan dibuka untuk publik, termasuk Candi Tinggi, Candi Kedaton, dan Candi Gumpung. Penemuan pecahan keramik, arca, dan mata uang kuno di sekitar area candi menunjukkan aktivitas ekonomi dan hubungan dagang yang kuat antara kerajaan di Jambi dengan Tiongkok dan India.
Pemerintah melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) terus melakukan upaya konservasi dan ekskavasi. Untuk memastikan keamanan dan pelestarian situs yang begitu luas, pihak keamanan, yang diwakili oleh petugas Polisi Pamong Praja (Pol PP) dan satuan pengamanan cagar budaya, melakukan patroli rutin setiap hari, dengan jadwal khusus patroli sungai pada malam hari setiap hari Jumat pukul 20.00 WIB. Konservasi situs ini bukan hanya pekerjaan fisik, tetapi juga upaya pelestarian budaya Melayu Kuno. Keberadaan Kompleks Candi Muaro Jambi menjadi saksi bisu kejayaan maritim Indonesia yang pernah menjadi pusat peradaban dan pendidikan dunia.