Candi Muaro Jambi adalah harta karun arkeologis yang terletak di Provinsi Jambi, membentang di sepanjang Sungai Batanghari. Situs ini bukan sekadar peninggalan sejarah biasa; ia diakui sebagai Kompleks Candi Terluas di Asia Tenggara, dengan luas mencakup 2.000 hingga 3.000 hektar dan menyimpan lebih dari 80 reruntuhan candi yang belum sepenuhnya digali. Lebih dari sekadar dimensi fisiknya, Candi Muaro Jambi memiliki peran penting sebagai Pusat Pendidikan Kuno agama Buddha, menarik para biksu dan pelajar dari seluruh dunia, setara dengan universitas-universitas besar di masa lampau.
Menguak Dimensi Kompleks Candi Terluas
Luasnya Kompleks Candi Terluas ini membuktikan bahwa Muaro Jambi pernah menjadi pusat kekuatan peradaban, diduga kuat terkait erat dengan Kerajaan Sriwijaya dan Melayu Kuno. Berbeda dengan Candi Borobudur yang berdiri tunggal, Muaro Jambi adalah kompleks multifungsi yang terdiri dari berbagai struktur seperti mandapa, stupa, dan vihara (biara). Candi-candi utamanya yang sudah direstorasi meliputi Candi Tinggi, Candi Gumpung, dan Candi Kedaton. Penggunaan batu bata merah sebagai bahan bangunan utama situs ini menjadi ciri khas arsitektur Sumatera Kuno.
Penelitian arkeologi yang intensif telah berlangsung di situs ini, dengan penemuan artefak seperti keramik Tiongkok, koin emas, dan prasasti bertuliskan aksara Jawa Kuno dan Melayu Kuno. Bukti-bukti ini menegaskan bahwa Candi Muaro Jambi aktif dari abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi.
Peran sebagai Pusat Pendidikan Kuno
Catatan sejarah kuno, khususnya dari biksu Tiongkok I-Tsing pada abad ke-7, menyebutkan bahwa Jambi (diduga sebagai ‘Melayu’ atau ‘Mo-lo-yu’) adalah tempat persinggahan penting bagi para biksu yang ingin belajar bahasa Sanskerta dan ajaran Buddha sebelum melanjutkan perjalanan ke Nalanda di India. Hal ini mengukuhkan Muaro Jambi sebagai Pusat Pendidikan Kuno yang memiliki reputasi akademik internasional.
Studi yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi menemukan bahwa struktur di sekitar candi utama berfungsi sebagai tempat tinggal dan ruang belajar para biksu. Para pelajar di Kompleks Candi Terluas ini fokus pada disiplin ilmu Buddha Hinayana dan Mahayana, menjadikannya salah satu kampus Buddha terbesar di dunia selama masa keemasannya. Bukti bahwa Muaro Jambi adalah Pusat Pendidikan Kuno yang penting adalah ditemukannya 260 lempeng emas bertuliskan mantra dan ajaran Buddha, yang dipublikasikan pada hari Rabu, 17 Juli 2024, di Museum Nasional.
Keberadaan Candi Muaro Jambi di tepi Sungai Batanghari juga menunjukkan pentingnya sungai sebagai jalur perdagangan dan pendidikan. Sungai tersebut berfungsi sebagai “jalan tol” utama, menghubungkan situs ini dengan pantai timur Sumatera dan jaringan maritim Asia Tenggara.
Dengan statusnya sebagai Kompleks Candi Terluas yang menyimpan sejarah spiritual dan intelektual Nusantara, Candi Muaro Jambi tidak hanya menjadi tujuan wisata sejarah andalan Jambi, tetapi juga menjadi pengingat akan kejayaan Indonesia sebagai pusat pengetahuan dunia pada masa lalu.