Di tengah modernisasi, masih ada komunitas yang mempertahankan cara hidup tradisional yang sarat makna. Salah satunya adalah Suku Anak Dalam (SAD), atau yang juga dikenal sebagai Suku Kubu, di Provinsi Jambi. Kehidupan mereka yang unik, yang dikenal sebagai kehidupan nomaden, adalah sebuah cerminan dari harmoni dengan alam. Mereka tidak terikat pada satu tempat, melainkan berpindah-pindah mengikuti siklus alam dan ketersediaan sumber daya. Memahami kehidupan nomaden Suku Anak Dalam adalah cara untuk menghargai kekayaan budaya Indonesia yang sangat beragam.
Filosofi hidup Suku Anak Dalam sangatlah sederhana: mereka mengambil dari alam hanya sebatas kebutuhan. Mereka tidak mengenal konsep kepemilikan lahan secara permanen. Sebaliknya, mereka menganggap hutan sebagai “rumah” mereka, yang menyediakan segala yang dibutuhkan, mulai dari makanan, obat-obatan, hingga bahan untuk membangun tempat tinggal sementara. Saat sumber daya di suatu area mulai menipis, mereka akan pindah ke lokasi lain. Pola hidup ini menjaga keseimbangan ekosistem, karena mereka tidak pernah mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.
Meskipun hidup berpindah-pindah, Suku Anak Dalam memiliki aturan adat yang sangat kuat. Aturan ini mengatur segala aspek kehidupan mereka, mulai dari cara berinteraksi dengan sesama, cara berburu, hingga cara menyelesaikan konflik. Salah satu aturan yang unik adalah melangun, yaitu tradisi berpindah tempat untuk mengobati kesedihan akibat kematian anggota keluarga. Tradisi ini menunjukkan betapa pentingnya pemulihan emosional dalam budaya mereka. Mereka percaya bahwa dengan berpindah, mereka bisa melupakan kesedihan dan memulai hidup baru.
Namun, kehidupan nomaden Suku Anak Dalam tidak lepas dari tantangan. Seiring dengan berkurangnya luas hutan akibat pembukaan lahan untuk perkebunan dan permukiman, wilayah gerak mereka semakin terbatas. Hal ini memaksa mereka untuk berinteraksi lebih sering dengan masyarakat luar, yang terkadang menimbulkan konflik. Pemerintah dan berbagai lembaga swadaya masyarakat telah berupaya untuk membantu Suku Anak Dalam, misalnya dengan menyediakan layanan kesehatan dan pendidikan. Pada hari Kamis, 14 Agustus 2025, sebuah lembaga sosial di Kabupaten Sarolangun, Jambi, mengadakan penyuluhan kesehatan untuk Suku Anak Dalam, menunjukkan komitmen untuk menjaga kesehatan mereka tanpa mengubah cara hidup tradisional mereka.
Secara keseluruhan, kehidupan nomaden Suku Anak Dalam adalah warisan budaya yang tak ternilai. Ini adalah sebuah cerminan dari kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Meskipun menghadapi tantangan modernisasi, Suku Anak Dalam tetap memegang teguh tradisi mereka, mengingatkan kita bahwa ada cara hidup lain yang sama berharganya dengan cara hidup yang kita kenal sekarang.